catatan angin
karya : annisa ayu aisyah wayudana
“...dan dia seperti bunga, terkadang daun...
Gugur menyentuh Bumi...
Dengan pesona tersendiri, membawa kecantikan tersendiri...
Tersirat, hanya padaku...”
Tidak banyak yang mengenalku, tapi mereka memanggilku Sekar. Nama
lengkapku Sekar Kencana. Aku baru saja menginjak usia 18 tahun pada saat
kelulusan SMA. Saat ini, tak banyak yang kulakukan. Mungkin, hanya menunggu
pengumuman beasiswa pertukaran pelajar ke Inggris. Sambil aku menuliskan
beberapa catatan kecil yang bagiku tak bermakna, hanya isi hatiku. Perjalanan
waktu menuntunku dalam setiap lembarnya. Goresan itu sangat mengunggah hati.
~~~
Suatu hari, Andrea mengajakku berkeliling taman. Sesekali, aku menertawakan
tingkah konyolnya, seperti biasa. Sesekali aku merenung menatapnya.
“Berhentilah menatapku seperti itu, dasar aneh!” serunya dari kejauhan. Aku
tersenyum tipis.
“Kau terlihat bodoh kalau tersenyum!” katanya lagi sambil tertawa.
Terkadang, dia bisa menghabiskan waktu seharian dengan berlarian di taman
sambil meledekku. Terkadang, dia bisa menghabiskan satu minggu terbaring
lemah, tak berdaya. Terkulai bagai daun gugur.
“Dia bagaikan garis tegas, dan garis lengkung
Ada saatnya kuat, dan ada saatnya lemah,
Ada saatnya putih, dan ada saatnya hitam,
Semoga cahaya itu mengalahkan kelam yang beradu...”
~~~
Aku sedang menulis essay untuk bahan beasiswa ketika Aria menghampiriku
di perpustakaan sekolah. Dia berbincang sebentar dengan penjaga perpustakaan,
kemudian duduk di hadapanku.
“Aku sudah dengar soal Andrea. Aku ingin menemuinya.” kata Aria. Aku
menengadah.
“Sebaiknya kau ajak Hasan, Ria. Aku tak yakin dia akan menerimamu seorang
diri.” kataku sambil merapikan bukuku. Aria menunduk dan air terbit dari pucuk
matanya. Aku beralih duduk disebelahnya dan memeluknya.
“Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa yang terbaik untuknya. Tuhan pasti
mendengar doa hamba-hambanya...” kataku. Aria menatapku seperti gadis kecil
yang tersesat. Dia memang tersesat, dalam masa lalunya, dan masa sekarang.
“...dia rapuh, tak berdaya...
kecuali cintanya bersedia meneranginya...”
~~~
Sialnya, sepulang aku mengerjakan essay, hujan turun. Terpaksa aku
menunggu di kantin sekolah, seperti yang aku lakukan dengan Andrea, Aria, dan
Hasan 3 tahun yang lalu sebelum lulus. Entah mengapa, aku merindukan saat-saat
kita bukanlah alumni. Saat-saat kita bukan murid tahun terakhir. Saat-saat dimana
hanya ada kita, kesenangan, kenakalan, dan kekonyolan. Saat-saat dimana julukan
seperti Rea, Ria, Has, dan Kar didengungkan. Coklat hangat itu cukup hangat,
namun tak mampu menghangatkan perasaanku. Tiba-tiba saja, sudah ada yang
duduk dihadapanku. Hasan. Aku memandangnya sebentar dan beralih
memandang hujan.
“Ngapain?” tanya Hasan. “Meratapi nasib, terus ditulis di diary-mu seperti
biasa?”
“Aku tidak meratapi nasib. Lagipula, yang kutulis juga tidak ada maknanya.”
kataku. Refleks Hasan mengambil buku catatanku dan membacanya. Untuk kali
ini, kuizinkan orang lain membacanya. Seterusnya tidak!
Aku mengenal Hasan sebagai versi laki-laki dariku, Sekar. Kecuali bagian
menulisnya, ditambah dengan atletis dan macho, tapi perasa. Hasan sudah seperti
„ayah‟ bagi kami bertiga, karena dia yang paling bijak.
Lima menit kemudian, Hasan memberikan buku catatanku, dan memandangku
dengan tatapan teduh. Aku tetap saja memandang hujan, yang menurutku jauh
lebih menarik.
“Kau bohong. Kata-katamu sangat indah untuk ukuran anak SMA.” kata Hasan
memujiku.
“Terserah...” kataku malas.
“Aku juga sudah membaca tulisanmu tentang kita, dan pada bagian dia.” kata
Hasan memancing diriku. Aku menoleh. Hasan tersenyum jahil.
“Seperti yang kau sampaikan pada Aria, dan itu kembali padamu. Ingatlah,
umur, jodoh, dan rizki tidak ada yang mengetahui kecuali Tuhan...” kata Hasan,
seolah-olah berusaha menenangkanku. Seperti dia. Dia yang sedang terkulai
lemah di Rumah Sakit.
“Kadang ku bertanya, siapa kau?
Kau berdiri gagah seperti benteng,
Meneduhkan laksana rimbun pohon,
Lagi bijak, seperti orang tua...”
~~~
Seminggu kemudian, aku mengunjungi taman itu lagi. Taman dimana hanya
ada aku, Andrea, dan beberapa pasien serta pengunjung Rumah Sakit. Ada
karangan bunga di tanganku. Aku tidak suka datang kemari. Itu selalu membuatku
tersiksa. Aku tidak kuat melihat penderitaan Andrea. Dan kali ini, aku sendiri. Tak
ada Andrea. Hasan dan Aria menyertaiku.
Kami bertiga menyusuri lorong Rumah Sakit, mencari ruangan tempat Andrea
dirawat. Andrea mengidap kanker dan dia selalu berganti-ganti ruangan. Dan, kali
ini kami menemukan Andrea dan melihatnya, dibalik ruang UGD. Dengan orang
tua Andrea. Dia berada di ambang kematian. Hasan menyarankan kami untuk
berdoa selagi menunggu hasilnya.
Satu detik, satu menit, tiga puluh menit, satu jam kemudian. Dokter yang
memimpin operasi itu keluar UGD.
“Dia hanya bertahan paling lama hingga malam ini. Dan kebetulan, dalam
keadaannya yang sekarat dia masih memiliki kekuatan untuk sadar...” kata Dokter
Marentine, dokter muda yang terlihat menawan. Sekilas saja dia mengingatkanku
pada Andrea. Bagaimanapun, aku harus masuk dan melihat kondisinya.
Andrea terbaring lemah. Kepalanya botak. Wajahnya tetap terlihat tampan.
Senyumnya tetap terlihat menawan. Dia menatap kami dengan matanya yang
sayu. Aria yang berusaha terlihat tegar tak mampu membendung air matanya. Dia
menutup wajahnya dan menangis. Sedangkan Hasan memanjatkan doa, aku
memandang Andrea yang rapuh. Bukan Andrea yang kuat. Andrea yang selalu
ada untukku.
“Aria... Hasan... Sekar...” kata Andrea lemah. Kami mendekat menuju Andrea.
Andrea tersenyum lemah. Entah kenapa, aku juga ikut merasakan kesedihan Aria.
Aku menemaninya menangis.
“Hasan... Tolong jaga Aria, ya... Dia bukan gadis biasa, pesonanya...” kata
Andrea sedikit tertahan karena menahan sakit. “Dan... Tetap sampaikan dakwah
seperti yang kau lakukan pada kita...”
Hasan mengangguk dan tersenyum lemah. Andrea balas tersenyum.
“Aria... Jangan suka bantah nenekmu lagi... Orang tuamu akan segera kembali,
kan? Hormati nenekmu seperti hormatmu... Pada... Orang... Tua... Mu...” Andrea
kesulitan bicara. Semakin dia berbicara, semakin dia kesakitan. Aria menahan
tangisnya.
“Tidak... Tinggallah sebentar...” kata Aria dalam tangisnya. Hasan memegang
bahu kanan Aria, isyarat supaya diam dan berdoa yang terbaik.
“Sekar...” kata Andrea lirih. Dia mengumpulkan kekuatan terakhirnya dan
berkata, “Aku menyiapkan sesuatu untukmu, di buku ini. Semoga kau tidak
merasa kesepian lagi...”
Bersama dengan kalimat terucap, Andrea menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku dan Aria menangis. Keesokan harinya, Andrea Putra dimakamkan. Aku
sudah tidak terisak dan merelakannya, namun tidak dengan Aria. Aria masih
menangis. Aku dan Hasan jadi sibuk menghiburnya.
Satu tahun berlalu, dan aku belum sempat membuka buku dari orang yang
memperkuat kami. Yang membuat kami bersatu. Setidaknya, walau hanya Aria
dan Hasan. Mereka memegang prinsip yang kuat. Sementara aku, disini.
Menikmati angin musim gugur London sambil membuka catatan Andrea. Sesekali
aku tersenyum, sesekali aku tertegun. Dalam hati, aku kagum pada Andrea. Di
tengah-tengah perjuangannya melawan penyakitnya, dia masih sempat membuat
catatan yang sering kuberi julukan „Catatan Angin‟; catatan yang kutulis saat
perasaanku kacau. Setelah puas membaca catatan itu, aku beranjak dari tempat
dudukku. Berjalan. Berharap menemukan „Catatan Angin‟ lainnya...[]
“...mereka tak ubahnya rona
dan aku, bagai kanvas putih...
mereka bagai warna di jiwaku...
alasan kenapa aku mampu bertahan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar