BLUISH FAREWELL
karya: annisa ayu aisyah wahyudana
Setiap orang diciptakan berbeda dengan tujuan tertentu. Ada yang hidup
dengan tujuan untuk menyebarkan kebaikan, ada yang hidup untuk sacred
mission by its own, atau mungkin ada yang hidup namun belum menemukan
tujuan hidupnya? Setiap langkah yang kutapakkan bahkan tak mampu
menunjukkan siapa aku. Tujuanku hidup. Apa yang akan terjadi padaku.
Disetiap pulau di Indonesia yang hampir semua sudah kutorehkan jejak hidupku,
kepingan puzzle sejarahku. Hingga aku tiba di kota ini, sekolah indah yang
memberiku kesan terindah. Bukan, tapi mereka yang memberikan kesan
terindah. Dua orang terhebat pertama yang kutemui. Dua orang yang
mengajarkanku banyak hal tanpa kusadari, dan lagi, mereka telah membuatku
jatuh hati. Kepada kota ini, sekolah ini, dan salah satu diantara mereka...
Hari baru di kota baru. Pekerjaan Ayah membuat seisi keluarga juga ikut
berpindah-pindah kota, bahkan pulau. Aku semakin lama tidak tertarik dengan
kepindahan ini. Yang kuinginkan adalah berdiam di satu kota atau pulau hanya
untuk 5 tahun atau lebih, bukan 2 atau 3,5 tahun seperti biasanya. Kota ini
adalah kota dimana singa biru bersarang. Kota yang sangat menakjubkan,
menurutku. Aku pindah kemari saat aku baru saja lulus SMP di Padang.
Bahkan untuk membujukku, Ayah dan Mamaku berkata kali ini kita akan
menetap selama 5 tahun, sesuai keinginanku. Maka, aku menurut saja. Mereka
adalah orang tuaku dan aku yakin mereka tahu apa yang terbaik untukku.
Aku terlahir sebagai anak tunggal. Beberapa orang menganggap
kehidupanku sempurna; keluarga yang kaya sejahtera dari hasil sendiri,
kehidupan yang berkecukupan, wajah yang rupawan, keahlian dalam sastra.
Mereka bahkan tak ragu menyebutku ‘Flawless Girl’. Gadis tak bernoda. Aku
hanya tersenyum mendengar argumentasi mereka sambil mengamini dan
mendoakan mereka. Mereka tidak tahu kehiupanku yang sebenarnya; mulai dari
bangun hingga tidur lagi. Biarlah hanya Allah yang tahu. Sama seperti mereka,
aku dalam proses hijrahku. Meniti jalanku sendiri sesuai syariah.
Namaku Aida Hana Azzahra. Mereka biasa memanggilku Aida, namun ada
juga yang memanggilku Hana. Aku baru saja menginjak semester 3 kelas XI
jurusan Literasi dan Sastra Dunia. Salah satu jurusan menyenangkan yang
membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Bicara soal itu, aku ingin
memperkenalkan orang yang selalu kubanggakan. Salah satu senior, semester 5
kelas XII jurusan Otomotif-C. Kak Ray dan Mas Echa.
~~~~~
Pagi ini tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Hangat sebagaimana
harusnya. Aku turun dari angkutan umum dan berjalan menuju lab jurusan.
Seorang cowok berkacamata dengan frame merah yang tampak tak asing sedang
mengemudikan motornya masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dia
memperlambat laju motornya dan menyamakan kecepatannya dengan
kecepatanku.
“Aida...” sapanya. Aku menoleh.
“Parkiran sebelah sana, ko. Lurus aja.” Godaku. Cowok itu merengut.
“Aku juga tahu, Da! Eh, daripada jalan, mending ikut aku di belakang.”
Kata cowok itu mengajak. Aku menggeleng.
“Ogah. Lab udah kelihatan dari sini. Kalau mau ajak bareng ya nggak usah
nanggung. Dari rumah juga gapapa kok.” Godaku. Cowok itu makin merengut.
“Aku juga ogah. Emang aku tukang ojek gitu?” kata cowok itu sewot.
Aku terkekeh melihat tingkahnya.
“San, san. Dari dulu gak berubah...” gumamku. Cowok itu; Sanjaya,
menoleh sambil melirik jenaka. Aku segera menuju lab jurusan. Hal pertama
yang kulakukan adalah mengisi entri kedatangan. Kemudian, duduk di bangku
terdekat sambil membuka novel yang kubeli semalam. Sebuah novel yang
selama ini kuidam-idamkan dengan judul ‘Bulan Merah’. Sebuah novel dengan
tata bahasanya yang indah dan mampu menyihir pembacanya.
Sanjaya menghampiriku dan duduk di sebelahku. Dia merogoh sakunya dan
mulai asyik dengan gawainya. Diam-diam, aku melirik Sanjaya yang masih asyik
dengan gawainya. Aku mengambil beberapa dedaunan kering dan menaburkannya
diatas Sanjaya. Sanjaya tampak terkejut dan berusaha membalasku. Tepat saat
Kak Ray datang sambil membawa tumpukan berisi bacaan berat miliknya.
“Kakak...” sapaku berusaha menghindar dari Sanjaya. Kak Ray
mengangsurkan tumpukan itu.
“Berhentilah mengerjai temanmu...” kata Kak Ray pendek. Dia
membetulkan ikatan sepatunya dan mengambil tumpukan itu lagi. “Buku
filosofi yang kaumaksud kemarin ada di Echa.” Sambungnya sambil tersenyum
tipis. Aku mengangguk. Satu hal yang pasti, saat aku bertemu dengannya
jantungku selalu berdebar kencang, antara harus dan tidak bisa merelakannya
pergi tanpa ku sapa dan menjerit secara diam-diam. Sanjaya yang melihatku
hanya bisa menahan tawa. Kemudian, tukang kebun datang dan menuduh
Sanjaya bertanggung jawab atas sampah daun yang kutebarkan. (Maafkan aku,
San...)
~~~~~
Saat aku sedang menunggu angkutan umum menuju daerah perumahan
tempatku tinggal, seseorang dengan sepeda motornya berhenti di depanku. Dia
adalah Mas Echa. Dia mengambil buku tebal dengan cepatnya dari dalam tas
dan memberikannya padaku. Tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkanku begitu
saja. Namun, angkutan umum yang kutunggu-tunggu datang membuyarkan
lamunanku terhadap sikap Mas Echa yang berbeda dengan percakapan kami
semalam di instant messaging.
~~~~~
Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan diri. Kemudian, keluar
kamar dan makan. Mamaku datang menyambutku 1 jam kemudian setelah
menghadiri sebuah acara. Aku juga balas menyambutya. Setelah membantu
membereskan rumah, aku masuk ke dalam kamar dan mengerjakan PR sambil
ditemani koleksi lagu Yovie & Nuno dan Charlie Puth.
BLING! Handphoneku berbunyi. Aku membukanya dan ternyata itu hanya
notifikasi untuk upgrade. Aku meletakkan handphoneku kembali, dan rebahan di
lantai sambil berguling-guling. Kemudian, duduk kembali dan merapikan bukuku.
Sebuah kertas terjatuh saat aku mengangkat buku filosofi. Aku mengambil
kertas putih yang tertulis dalam bahasa Arab itu. Handphoneku berbunyi lagi.
Aku segera mengangkatnya.
“Assalamualaikum...” kataku.
“Waalaikum salam. Maaf, tak seharusnya aku menelponmu. Hpku hang
dan aku tidak bisa mengabarimu. Jadi, aku meminjam hp temanku.” Kata
suara di seberang.
“Mas Echa? Ada apa?” tanyaku.
“Kertas didalam buku filosofi itu, jangan dibuka! Besok kembalikan
padaku!” kata Mas Echa. Aku mengangguk.
“Assalamualaikum.” Sambungnya. TUUT! Sambungan telepon telah
diputus. Aku memandang ke arah secarik kertas yang baru saja kutemukan.
Aku sangat penasaran dengan isi dari kertas itu. Tapi, mau bagaimana lagi,
seseorang telah melarangku untuk membacanya. Sebaiknya aku segera
mempersiapkan diri untuk sekolah besok, atau ada sesuatu yang tertinggal.
~~~~~
“...peimistis membakar kita secara perlahan, menggerogoti kita dengan
kebencian, dan badai kehancuran bernaung pada hati yang busuk. Ha... Ha...
Ha...” kata Sanjaya. Dia membacakan karangan puitisnya dengan tambahan
tawa yang aneh. Pak Franki yang mendengarkan hanya bisa geleng-geleng
kepala.
“Terlalu banyak typografi! Caramu membaca sungguh aneh! Minggu depan
kau remidi! Dan lagi, peimistis seharusnya pesimistis!” kata Pak Franki tanpa
bosan-bosannya. Aku terkikik geli. Dania yang duduk di sebelahku keheranan
dibuatnya.
“Sanjaya kan memang begitu. Emang apa serunya sih?” tanya Dania
penasaran. Aku menoleh dengan tatapan seperti anak kecil yang berbinar-binar.
“Nggak ada. Aku hanya mengingat waktu Sanjaya berlatih membaca
karangan itu bersamaku kemarin. Kesalahannya jauh lebih banyak!” ceritaku.
Dania mengangguk paham.
“Dania Gioni Ratulangi! Dengan judul ‘Kaisar Es’.” panggil Pak Franki.
Dania maju dan membaca karangannya.
“Sedingin hari yang beku...” ucap Dania. Aku terus memperhatikannya.
“Kau datang padaku penuh enggan, meniupkan segala kebencian. Kau berkata
sepatah patahan, dan mencampakkanku. Kau buat diriku hampa...”
“Hanya itu?” tanya Pak Franki. Dania mengangguk.
“Lebih baik daripada banyak dan gagal. Selanjutnya!...” Pak Franki
membacakan nama temanku yang lain. Naya memanggilku tiba-tiba.
“Aida... Kamu, kan pintar membuat kata-kata puitis, aku buatkan satu,
dong tentang cinta dan kehangatan...” kata Naya.
“Ya, gampang dong. Seperti ‘kasihmu menghangatkanmu’ atau ‘hati yang
menghangatkan perasaan ini’.” Kataku. Jujur, saat ini aku sedang tidak ada ide
untuk membuat kata-kata. Bu Lily yang bilang, kata-kata yang mengalir bagai
sungai akan sangat indah daripada kata-kata yang dialirkan dari keran. Entah
apa maksudnya tapi kata-kata itu sangat memotivasiku.
Kelas baru saja selesai ketika tiba-tiba hpku bergetar waktu hendak
kuambil dari dalam tas. Namun, yang kuingat saat itu adalah kertas yang
terselip di buku filosofi yang sialnya tertinggal di kelas. Aku segera masuk ke
dalam lab dan mencari kertas itu di bangku tempatku duduk dan loker tempat
aku menyimpan tas.
“Mencari ini?” sebuah suara mengejutkanku. Aku menoleh ke arah suara.
Pak Franki membawa kertas itu sambil tersenyum. “Hanya tulisannya saja yang
Arab. Tapi, memakai bahasa Jawa yang indah. Sangat indah. Lebih indah dari
tutur kata orang Jawa Tengah sekalipun. Apa ini milikmu?”
Aku menggeleng. Pak Franki memberikan kertas itu padaku. Kemudian,
beliau pergi ke kantor di belakang kelas. Dia kembali sambil membawa kertas
berisi pengumuman beasiswa dan lomba cipta sastra.
“Ada yang ingin ku bahas denganmu...”
~~~~~
Selesai dengan Pak Franki, tiba-tiba ada dua kakak kelas yang berdiri di
luar lab, seolah-olah sedang menungguku.
“Ikut kami.” Seru salah satu diantara mereka. Aku mengenali mereka.
Mereka salah satu teman Kak Ray dan Mas Echa. Aku menurut, mengikuti
mereka. Bila aku tidak menurut, mungkin yang terjadi adalah aku diseret
paksa. Tapi, bisa jadi ini hanya jebakan. Entah apa yang membuatku yakin
dengan beberapa pikiran aneh ini. Mereka membawaku ke kelasku selanjutnya,
namun anehnya tak ada seorangpun temanku didalamnya. Kak Ray berada
didalam kelas sambil memainkan kunci kelas di tangan kanannya.
“Dua orang temanmu menitipkan kunci ini padaku. Dan, abaikan dua
temanku yang jahil itu.” Kata Kak Ray seolah-olah membaca pikiranku.
“Tentu saja aku tahu. Mana mungkin sampai ada adegan skenario
penculikan!” kilahku. Kak Ray terkekeh.
“Kau adalah anak sastra yang aneh. Tidakkah kau sadar kalau kalimatmu
barusan tidak efektif?” tanya Kak Ray. Aku mengingat-ingat kata yang
kuucapkan dan tersipu malu. Kak Ray tertawa kecil.
“Apa kau membawa kertas milik Echa?” tanya Kak Ray. Aku
menyerahkan kertas yang kubawa. “Echa berusaha menghubungimu berkali-kali
namun tidak ada respon. Jadi~”
“Kakak berniat mengambilkannya?” tanyaku. Kak Ray menggelengkan
kepalanya.
“Aku katakan padanya Hana jarang membuka hpnya di sekolah. Cobalah
memakai buku harian Voldemort.” Kata Kak Ray. “Aku berniat ke kamar
mandi dan menemukan kedua temanmu yang langsung memberikan kunci kelas
ini padaku. Mereka rabun atau apa, sih? Sudah jelas aku adalah kakak kelas
bukan teman mereka...”
Kak Ray sangat lucu jika sedang mengomel. Entah kenapa terkadang aku
membiarkannya puas mengomel terlebih dahulu baru aku bicara.
“Mungkin, kakak memiliki wajah yang mirip dengan temanku...” godaku.
“Wajahku tidak bisa dicontek semudah itu!” kata Kak Ray. Dia kemudian
melihat jam tangannya. “Gawat! Kalau begitu, terimakasih~”. Entah ini
sungguhan atau hanya bayanganku, dia mengatakan dengan lirih “~adik kecil
kesayanganku.”
Aku memandangnya keluar kelas dengan perasaan hangat yang
menenangkan. Aku meraih kunci itu, mengamankannya didalam saku rok, dan
membenahi hijabku. Apakah mungkin dia juga merasakan perasaan yang sama
denganku? Tidak. Lelaki dan perempuan, menurutku lelaki memiliki pemikiran
yang cukup rumit, tak peduli mereka memiliki 7 logika atau berapalah, aku
tetap tak bisa memahami jalan pemikiran mereka.
~~~~~
Setelah olahraga selesai, aku menghampiri Mas Echa yang terduduk sambil
minum air. Menyadari kedatanganku, dia hanya melirikku dan melanjutkan
aktivitasnya.
“Mas...” rajukku.
“Apa? Aku bukan kakakmu. Sana pergi ke Ray.” Kata Mas Echa cuek.
Aku merengut. Merasa perintahnya tidak diindahkan, dia menggertakku dengan
kalimat yang sama. Aku menjauh dan duduk di sebelah Dania. Dania menatapku
heran.
“Jahat?” tanya Dania. Aku terdiam, tertegun. Dania memberiku coklat.
Aku mengambilnya dan memakannya. Kebiasaanku saat badmood, memakan
segala bentuk olahan coklat, entah itu makanan atau minuman.
“Semuanya bisa diselesaikan pelan-pelan...” kata Dania. Aku mengangguk
sambil menghabiskan coklatku. Kemudian, Kak Ray dan Mas Echa datang
menghampiriku yang sedang asyik makan coklat.
“Dania... Kami pinjam Hana sebentar, ya?” kata Mas Echa mewakili.
Dania menoleh kepadaku. Aku memberi isyarat ‘ya’.
“Iya. Bagaimana nanti dia pulang?” tanya Dania.
“Aku antar. Gampang.” Kata Kak Ray. Mas Echa memberiku kode untuk
mengikuti mereka berdua. Setelah sedikit kata perpisahan (padahal hanya
bilang ‘bubye...’) aku mengikuti dua seniorku sampai kantin. Ketika mereka
duduk, aku juga mengikutinya.
“Siapa yang suruh kamu duduk?” tanya Kak Ray. Aku berdiri lagi. Kak
Ray menahan tawa melihat ekspresi terkejutku. Aku menahan malu.
Sementara Mas Echa, ya, ekspresi yang susah digambarkan, antara geli dan sok
tegas yang bersatu padu dan terlihat sedikit aneh. (Oke, sangat aneh)
“Enggak, lah! Aku cuma bercanda. Duduklah.” Kata Kak Ray. Aku duduk
kembali.
“Ceritakan.” Kata Mas Echa.
“Apa yang menjadi persyaratan dalam berteman zaman sekarang? Maaf
jika kasar, tapi apa kalian tahu, memiliki teman yang sangat menyebalkan?
Yang datang saat hanya benar-benar membutuhkanmu?” ceritaku kesal. Mas
Echa tertegun.
“Kamu tidak bisa berasumsi seperti itu. Aku tahu apa yang kau maksud.
Beginilah kehidupan jaman sekarang. Dan lagi, itu tandanya terdapat sedikit
kesombongan didalam hatimu. Sebuah kesombongan yang mengindikasikan bahwa
kamu merasakan kamu yang paling benar. Yang perlu kamu lakukan intinya
adalah selektif dalam memilih teman. Sesungguhnya bermusuh-musuhan adalah
hal yang tidak disukai oleh Allah dan Nabi. Kamu tidak ingin tidak disukai oleh
Allah dan Nabi, kan?” tutur Mas Echa. Aku mengangguk.
“Solusinya adalah kamu harus selektif dalam memilih teman, tapi jangan
jauhi teman yang memiliki sifat buruk. Jangan ikut mereka main. Doakan saja
dia agar segera dibenarkan jalannnya, karena salah satu doa yang diamini
malaikta adalah doa seorang muslim ke muslim yang lain.” Sambung Kak Ray.
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, ada hal lain lagi? Mungkin masalah cowok?” tanya Mas
Echa. Aku menggeleng.
“Waktu aku berada di posisimu aku bahkan masih sibuk-sibuknya
memikirkan prakerin. Kau akan prakerin dimana?” tanya Kak Ray. Mas Echa
yang merasa disela memelototi Kak Ray. Kak Ray cuek, pura-pura tidak tahu.
“Pak Franki bilang, akan menempatkan top 3 di pelajarannya, termasuk
aku di perguruan sastra di London.” Jawabku.
“Itu bukan prakerin, itu beasiswa.” Kata Mas Echa.
“Tapi setelah kami digembleng dalam ilmu sastra dan politik di Boston.
Beliau bilang, yang terbaik akan berkesempatan skip sekolah, artinya lulus pada
angkatannya kakak dan sekolah di perguruan tinggi sastra di London.” Ceritaku.
“Berarti, Hana harus rajin belajar sastra dan politik. Kakak dengar, Hana
pandai dalam hal itu.” Kata Kak Ray. Aku tersipu malu.
“Tapi, tetap saja, kau tidak bisa menghadiri wisuda kami. Itu akan
sungguh mengecewakan.” lanjut Kak Ray.
“Dasar, adik kakak sama saja...” celetuk Mas Echa.
“Ya harus, dong!” kilah Kak Ray bangga. Aku tersenyum menanggapinya.
Hanya masalah waktu hingga saatnya prakerin. Pak Franki bilang, kami akan
diberangkatkan saat tahun baru. Tahap seleksi bulan April berikut
penerimaannya. Aku bukannya tidak ingin menerima kehormatan itu, aku
sangat ingin. Sebuah impian yang tergenggam tak akan pernah mudah
dilepaskan. Tapi, itu artinya aku tidak bisa datang pada saat wisuda di bulan
Mei. Mungkin saja bisa. Kak Ray dan Mas Echa pernah bilang, “Kau tidak akan
pernah tahu batasanmu sebelum kau melangkah.”
Mungkin saja. Mungkin...
~~~~~
Mendekati hari keberangkatan, aku makin rajin belajar ilmu sastra dan
politik. Kak Ray, Mas Echa, Dania dan Sanjaya bahkan menyemangatiku.
Sanjaya bahkan sudah bersusah payah meminjamkan buku ilmu politik kakaknya
yang bersekolah di jurusan sosial. Dania rajin membanjiri e-mailku dengan soft
file modul sastra dan politik dari keluarganya. Kak Ray selalu menyemangatiku
lewat instant messaging dan sms. Dan Mas Echa, terakhir kita bertemu dia
hanya mengucapkan selamat sukses.
Suasana di lab sangat tenang. Aku, Mas Yana dan Dani sedang mendengar
pematerian untuk persiapan ke Boston. Bertepatan dengan selesainya
pematerian, Kak Ray dan Mas Echa datang menungguku diluar kelas. Sungguh,
sebuah kebetulan. Kami jarang kumpul bertiga sejak hari dimana aku
mengkonsultasikan soal pertemanan dan prakerin.
“Hai...” sapaku, berusaha mencairkan suasana.
“Ada yang ingin kami bicarakan, tapi tidak disini.”
~~~~~
Mereka membawaku ke tiga pohon kembar yang kurus. Tempat yang
kuingat sebagai tempat dimana aku mengenal mereka untuk pertama kalinya.
Tempat itu masih menyisakan kenangan dihatiku. Atau kenangan itu membekas
dalam sekali?
“Kau tentu tidak lupa saat pertama kali kita bertemu, kan?”
FLASHBACK – A (Ray’s Vision)
Aku sedang di perpustakaan, mencari bacaan berat untuk referensi tugas
PAI. Saat itu aku melihat gadis itu di rak buku religi islam. Matanya menyisir
setiap judul buku dan pengarangnya.
“Ada daftar katalog, kalau kau kesusahan mencarinya.” Kata Ibu Perpus
memberi petunjuk. Gadis itu menoleh singkat dan mengangguk. Bertepatan
dengan itu, aku menemukan buku yang kucari yang juga sepertinya dicari oleh
gadis tersebut. Secara bersamaan kami menarik tangan kami dan terdiam.
“Silahkan-” suara kami tercekat ketika secara tidak sengaja kami
mengatakan hal yang sama.
“Kau bisa meminjamnya duluan.” Kataku sambil menunduk. Gadis itu
menoleh dan menunduk lagi.
“Ambil saja. Kakak sepertinya lebih membutuhkannya.” Kata gadis itu
lirih. Bertepatan dengan itu, temankku menyuruhku untuk bergegas. Aku
mengambil buku itu dan tanpa sengaja lupa untuk meminta maaf.
Seminggu kemudian, aku bertemu dengannya di dekat tiga pohon kembar
dengan temannya sedang mengobrol dengan Echa. Aku menghampiri mereka
sambil membawa buku itu.
“Ciee Echa...” gurauku. Echa melirikku tajam. Aku mnoleh ke arah gadis
itu dan berkata, “Maafkan aku di hari itu. Oiya, namaku Ray. Rayyan Malik
Saputra.”
“Aida Hana Azzahra. Hana.” Kata gadis yang bernama Hana itu.
“Dania Gioni Ratulangi. Dania.” Kata temannya.
Tak lama kemudian, aku ikut bergabung dalam diskusi tujuan hidup yang
seru ini. Dan, aku juga mulai tahu banyak soal Hana. Dan, aku mulai
merasakan ketertarikan padanya. Entah perasaanku saja atau apa, Hana
sepertinya juga merasakan hal yang sama. Gejolak di hati.
“Seperti itu tadi. Kalau kamu ikhtiar, tawakkal, Insya Allah kamu akan
menemukan jawabannya.” Kataku bersemangat. “Oiya, Hana, ini bukunya~”
FLASHBACK – A (Echa’s Vision)
Seperti biasa, di salah satu malam jum’at, setelah sholat Isya’ aku
menjadi panitia dan mengurus acara ceramah yang diadakan oleh remas di
daerah. Sebagai anggota remas, aku mendapat tugas, yang biasanya menjadi
humas berganti menjadi kepala keamanan. Aku dan anggotaku beserta grup
dokumentasi berkeliling area. Setelah dirasa baik-baik saja, aku pun duduk di
barisan belakang, mendengarkan kajian yang bertopik ‘Arah pandangku sesuai
Islam’. Iseng, aku lihat ke barisan perempuan. Aku menangkap sesosok yang
baru aku lihat hari itu juga. Ketika acara selesai, aku meminta temanku di
bagian keamanan untuk menahannya sebentar.
“Apa kau menunggu lama?” tanyaku. Gadis itu menoleh dan menggeleng.
“Kakak nggak mau duduk?” tanya gadis itu. Aku menggeleng.
“Aku nggak pernah lihat kamu. Kamu darimana?” tanyaku.
“Padang. Tapi lahir di Aceh.” Kata gadis itu.
“Boleh tahu nama adik? Jadi, saya mewakili remas ingin meminta
testimoni soal acara yang kami lakukan seminggu sekali ini. Bagaimana? Karena
adik juga sepertinya baru di daerah ini.” Kataku.
“Aida Hana Azzahra. Biasa dipanggil Hana, kadang Aida.” Kata gadis yang
bernama Hana itu.
“Namaku Teguh Ginanjar Fahreza. Seringnya dipanggil Echa daripada nama
panggilanku yang asli, Reza.” Kataku. Gadis itu mengangguk paham.
Kemudian, aku mulia melontarkan beberapa pertanyaan. Hana menjawab
semua pertanyaan yang aku utarakan dengan jawaban yang logis dan singkat.
Sepertinya dia sedang terburu-buru.
“Oke, pertanyaan terakhir.” Kataku. “Apa kamu mendapatkan motivasi
dari ceramah tadi?”
Tidak seperti pertanyaan sebelumnya, Hana tidak segera menjawabnya.
Dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, kemudian menggelengkan
kepalanya. Aku tersenyum tipis.
“Setiap ciptaan Allah pasti memiliki manfaat, Allah tidak mungkin
menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya. Seperti tujuan manusia hidup.
Manusia pasti memiliki tujuan yang akan segera mereka sadari cepat atau
lambat. Apa kamu sudah menemukan tujuanmu hidup?” kataku. Hana
menggeleng.
“Itulah. Selama aku menjelajahi negeri ini, belum kutemukan hasrat yang
begitu menggodaku untuk menggalinya lebih dalam...” kata Hana. Aku
tersenyum. Kau sudah menemukannya, tapi tetap saja tidak peka, batinku.
“Impian adalah tempat dimana kamu memimpikan yang tidak pernah
terpikirkan orang lain.” Kataku. Selesai bercakap-cakap sedikit, Hana segera
mohon diri menuju rumahnya yang lumayan jauh dari lokasi masjid. Aku kagum
padanya. Ternyata, masih ada yang seperti itu, batinku. Ditengah-tengah
membayangkannya, temanku memanggil.
“Echa! Ayo rapat evaluasi!”
~~~~~
“Tentunya aku tidak lupa...” jawabku kalem. Kak Ray dan Mas Echa
terdiam. Aku yakin sekali bukan itu jawaban yang mereka harapkan. Aku
penasaran apa yang sebenarnya mereka inginkan.
“Sebenarnya...” mereka berdua bicara bersamaan. Kemudian, saling
mempersilahkan untuk berbicara duluan. Akhirnya, Mas Echa berbicara.
“Kami sudah bicara tentang ini, sekitar 3 bulan lalu. Ya, kau tahu
awalnya tidak berjalan lancar. Kami bermusuhan selama 3 hari dan setelah itu
berbaikan. Kami sepakat untuk membicarakannya denganmu sebelum
keberangkatanmu. Awalnya Ray menolaknya, dia khawatir itu akan menganggu
konsentrasimu selama prakerin...”
“Kau juga, kan?” potong Kak Ray.
“Biarkan aku selesai berbicara.” Kata Mas Echa. “Kemudian, yah,
sekarang saatnya. Aku tidak ingin kau tiba-tiba menghilang tanpa ada sesuatu
yang perlu kau tahu.”
Aku menghela napas. Aku sudah bisa menebak muara dari pembicaraan ini.
Kak Ray pun angkat bicara.
“Kau tahu, kami berdua sudah menyukaimu lama sekali, dan tidak ada
yang saling mendahului. Yang kami lakukan hanyalah menjadi kakakmu di sekolah
dan aku tahu kau menyukainya. Aku tahu kau tidak bisa jauh dari salah satu
diantara kami.” Kak Ray menghela napas. “Kami tetap akan mengantarmu ke
bandara saat keberangkatanmu nanti sebagai kakak di sekolah. Aku... Kami
harap saat wisuda nanti datanglah dan beritahu kami.”
Aku berdiri dan berlari menjauhi mereka. Air mataku keluar. Tak ada
tempat untuk kabur, aku pergi ke kamar mandi wanita. Aku terisak di salah
satu bilik. Aku tahu ini akan terjadi. Saat dimana aku harus memilih atau
tidak sama sekali. Setelah merasa tenang, aku keluar dan mengambil jalan lain
untuk sampai gerbang utama. Aku tidak peduli apa yang terjadi pada mereka.
Ketika aku sudah berada di angkot, aku teringat meninggalkan buku puisi
pribadiku di atas bangku tempatku duduk. Mengingat penawaran Pak Franki,
aku memutuskan untuk mengesampingkan hal itu.
Setibanya dirumah, Dania sudah menunggu di ruang tamu rumah dengan
Sanjaya. Aku menangis di ambang pintu dan Dania langsung memelukku, seolaholah
sudah mengetahui yang kurasakan. Sanjaya menghampiri, memberikanku
segelas air dan membawakan tasku. Dania membawaku duduk. Aku menegak air
itu.
“Sebenarnya, kami ingin menghampirimu tadi. Tapi, sepertinya saatnya
tidak tepat. Jangan-jangan, kau juga kabur dari kami.” Kata Sanjaya. Aku
tersenyum tipis.
“Sekarang, tenanglah. Kau punya kami.” Kata Dania menenangkan.
“Ceritakan pada kami.”
Aku menceritakan semua yang terjadi, semua yang kurasakan. Dania dan
Sanjaya mendengarkan dengan baik. Sesekali aku menangis dan Sanjaya
menghiburku. Dania juga menenangkanku. Kalau begini, aku lebih memilih
mereka, bila ada yang bertanya lebih nyaman dengan siapa. Bukankah teman
yang selalu ada untukmu akan selalu membuatmu jauh merasa lebih baik?
“Pilihlah yang membuatmu nyaman. Dan pastikan saat mengatakannya
kau tidak mengintimidasi salah satunya. Kalau tidak ingin ada yang terluka ya
jangan pilih semuanya. Beres, kan?” kata Sanjaya. Aku melirik Sanjaya.
“Seenak udel apa kayak milih telor bebek!” kataku sewot.
“Ih... ya, maaf... orang, nyong cuma ngasih saran aja, kok. Nyong capek
ngudang situ, rasa ngudang bayi macan tauk!” kata Sanjaya dengan logat
campuran yang aneh.
“Nyong?” tanya Dania.
“Bahasa Tegalnya aku.” Kata Sanjaya. Aku mengangguk paham.
“Tegalan juga ada bahasanya?” tanya Dania. Sanjaya menepuk jidat.
“Daerah Tegal, Jateng sayangku maniskuuuuuhhh... Uhh kenapa ya aku
tambah cintah ke kamoeh...” kata Sanjaya dengan logat anehnya dan bahasa
yang tidak karuan.
“Cie, cinta...” godaku. Dania merajuk.
“Jangan gitu, ah! Apa-apaan sih!” kata Dania menyembunyikan malunya.
Kami tertawa melihat tingkah Dania.
Setelah semua masalahku kurasa sudah diselesaikan, Dania dan Sanjaya
mohon diri. Aku berniat menahan mereka lebih lama.
“Jangan. Kamu harus istirahat dan mempersiapkan untuk besok. Ingatlah,
besok kamu berangkat lebih awal dari rencana.” Kata Dania mengingatkan. Aku
mengangguk. Kami akan diberangkatkan ke Boston, besok. Tentu, aku sengaja
tidak memberitahu mereka berdua. Yang ingin aku lakukan adalah melihat
reaksi mereka ketika aku tiba-tiba menghilang...
~~~~~
Literature and Politic Faculty, University of London, 07:00 am, 08 May
2018...
Aku berdiri disini. Setelah melawati masa-masa yang sulit, (bukan masa
yang itu, tapi saat, ah sudahlah...) akhirnya aku berdiri diantara puluhan
penerima beasiswa di Universitas ini. Diantara 3 anak, mereka lebih memilihku
berdasarkan talentaku. Tapi, aku mendengar kabar, Mas Yana jatuh sakit saat
tes akhir. Dan kabarnya juga, Mas Yana menangis, tidak bisa berbuat apa-apa,
padahal dia sangat ingin mendapatkan beasiswa ini. Aku menyempatkan diri
mampir ke petugas administrasi, mengurus beberapa surat serta menanyakan
info lain. Bertepatan dengan itu, sebuah gerakan dalam hatiku memintaku
melakukan sebuah ide ‘gila’.
“Excuse me, may I give my place in this college for Nur Yana `Ayyun?
Also, may I move to University of Arabia, Islamic Literature and Philosophy
Faculty?”
~~~~~
SMK di Malang, 12 Mei 2018, 07:00 am...
“Aku sudah bilang, dia tidak akan kembali. Dia sangat membenci kita,
mungkin.” Kata Echa. Aku mendesah. Pagi ini tidak panas, tapi aku merasa
gerah. Aku tidak pernah berhenti memikirkannya sejak hari itu, dan
keesokannya dia menghilang. Kukira itu saat terakhir aku bertemu dengannya,
dan aku membuatnya menangis. Temannya datang dan berkata kalau dia sudah
berangkat ke Boston. Penyesalan; tak bisakah kau beritahu aku kesalahanku
sebelum aku mengutuk diriku sendiri?
Perjalanan menuju SMK, hari yang sama, 12:00 pm...
Aku naik taksi dari bandara. Walaupun aku sudah berusaha agar tepat
waktu sebelum wisudanya berakhir, waktu tak ingin berdamai denganku.
Balasannya, tiba-tiba pesawat yang akan membawaku ke Indonesia daroi London
delay hingga 1 jam karena masalah cuaca. Untungnya, perjalanannya lancar, tak
ada masalah dengan pesawatnya.
“Mbak, turun mana?” tanya supir taksi. Aku menyebutkan nama
sekolahku. Supir taksi itu membawaku menuju lokasi ditemani desaknya jalanan
di hari sabtu. Yang aku khawatirkan hanya 1; permintaan maafku takkan
pernah terucap.
“Kamu harus kembali. Kasihan Kak Ray selalu terlihat murung...” kata
Dania di salah satu emailnya.
Parahnya, aku sampai sekitar jam 3, dan tak ada seorangpun di sekolah.
Sepi. Setelah membayar ongkos taksi, aku membaca pesan Dania. Kemudian,
aku terduduk lemas. Dania berkata acara baru saja selesai sekitar satu jam
yang lalu. Aku menutup wajahku dan menangis. Aku menyesali hal-hal yang aku
hindari sejak hari itu. Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi, entah mengapa aku
merasakan perasaan hangat dan kali ini, sangat meneduhkan. Ada yang berdiri
didepanku. Dan ketika aku menengadah...
“KAKAK?!” kataku terkejut. Kak Ray tersenyum. Dia membawa buku
yang aku tinggalkan tanpa sengaja. Aku segera merebutnya kembali.
“Maafkan aku.” Kata Kak Ray. Aku menengadah.
“Aku juga minta maaf.” Kata suara besar yang kukenal. Mas Echa datang
sambil membawa rangkaian bunga. “Aku, Ray, dan kedua temanmu patungan
untuk membeli ini, dalam rangka untuk meyambutmu.”
“Aku yang salah. Maafkan aku dengan setulus hati kalian...” kataku.
Mereka mengangguk.
“Sebagai balasan karena kau tiba-tiba menghilang...” kata Mas Echa
sambil melirik Kak Ray.
“...kami menantangmu, masuk kuliah sesuai minatmu, setelah itu 10
tahun kemudian menghadap kami dengan seluruh kesuksesanmu.” Lanjut Kak
Ray.
“Bagaimana kalau tidak sukses?” tanyaku.
“Pasti sukses. Karena kalau tidak, kau tidak boleh menghadap kami.”
Jawab Mas Echa.
“Atau cukup laporan saja ke salah satu dari kami. Kalau sudah, kita akan
membahas soal impian terakhirmu.” Kata Kak Ray penuh teka-teki. Itu
sempat membuatku bertanya-tanya. Setelah puas bercakap-cakap, kami pulang
ke rumah masing-masing. Dengan penuh pertanyaan untukku, tentunya.
“Tunggu! Jangan-jangan...”
~~~~~
10 tahun kemudian...
Aku baru saja pulang dari kuliahku di Al-Azhar, Kairo ketika mendapat
kabar lowongan kerja sebagai guru PAI di SMK tempat aku bersekolah dulu.
Sebenarnya, untuk mengisi kekosongan waktu saja, aku ingin melamar pekerjaan
menjadi guru. Entah kenapa aku begitu tertarik.
Sesampainya disana, aku disambut Bu Tutik, guru PAIku dulu waktu
bersekolah di SMK.
“Kenapa Aida begitu tertarik jadi guru? Padahal Aida bisa jadi dosen...”
begitu kata Bu Tutik. Aku tersenyum.
“Saya ingin bernostalgia dan mengingat kembali saat-saat disini...”
jawabku.
“Aida tunggu Pak Rayyan selesai mengajar saja. Nanti masalah
pendaftarannya, di Pak Rayyan.” Kata Bu Tutik. Aku mengangguk. Rayyan.
Nama yang tidak asing. Kenapa tiba-tiba aku teringat kata-kata terakhir Kak
Ray dan merasa malu. Aku pernah menuliskan ‘Ingin bertemu dan menikah
dengan seseorang yang kusuka dan dia menyukaiku bukan dari rupaku.’. Cukup
memalukan untuk dituliskan pada 10 tahun lalu...
“Assalamualaikum” kata seorang pemuda dengan pakaian rapi dan
berkopyah. Perasaan hangat itu datang lagi.
“Waalaikummussalam...” jawabku. Pemuda itu melihatku. Dalam 10 detik
kami saling memandang dan menundukkan pandangan kami.
“Hana...” katanya lirih. Aku menengadah. Persis 10 tahun lalu.
“Kakak...” balasku. Perasaanku tak karuan.
“Kalau ada kesempatan, maukah kau mewujudkan mimpimu?”
Aku memandangnya. Tak perlu berkata lagi; pemuda didepanku ini sudah
menangkap jawabannya. Dimana aku menemukannya...